Start Up Tips


by James Suselo June 07, 2016

Saya ingin berbagi pengalaman di dalam Entrepreneurship (Wirausaha), selain hal tersebut adalah hobby saya, hal tersebut sangat menarik untuk dibicarakan sekarang- sekarang ini, dimana Indonesia sedang merubah konsep dan mindset para generasi mudanya untuk berkarya, berkereatifitas untuk membuat suatu usaha.

Saya mulai dari background keluarga saya dan awal dari saya tidak punya uang / modal untuk membuat suatu perusahaan,Dan ya ! Saya memang dilahirkan di tengah keluarga Pejabat era Suharto dengan kekayaan yang cukup. Ayah saya seorang Wakil Menteri Pekerjaan Umum era Radinal Mochtar, dan juga salah satu orang kepercayaan Presiden Suharto. Pendek cerita, semasa kecil saya tidak pernah merasa kekurangan dan bahagia di dalam keluarga.

"Owww... enak dong, anak Pejabat, pasti bapaknya bisa modalin duit buat buka perusahaan". Jujur saja : TIDAK !

Ketertarikan saya dalam Entrepreneurship lahir semenjak saya Taman Kanak - Kanak (TK). Saya ingat saya mulai berjualan HotDog di depan rumah saya, dengan gerobak kayu bekas yang saya, ibu saya dan tukang buat sendiri. Saya cat, perbaharui dan percantik sehingga Hotdog Booth tsb kelihatan menarik. Saya berjualan sehabis jam sekolah TK selesai (jam 11-an), sampai jam dimana saya harus tidur siang (jam 13:00-an). Untuk bahan- bahan Hotdog, saya ambil dari kulkas ibu saya seadanya, dan memasak bahan- bahan tersebut menjadi suatu "Hotdog Special". Rasa? jangan tanya! Tidak enak...

Saya jual hotdog tersebut dengan harga Rp.250 (Tahun itu tahun 1987). Tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal. Langganan saya adalah anak- anak sekolah TK dekat rumah saya beserta ibu- ibunya. Ibu saya kerap membantu dalam memasak Hotdog, tetapi lama- kelamaan saya malu, karena saya ingin dilihat orang bahwa saya yang berjualan, bukan ibu saya. Akhirnya dia mengerti dan melepas saya berjualan sendiri (meskipun dia sering mengintip ke depan rumah untuk supervisi). Dan sayapun ditemani oleh mbak saya, yang jaman sekarang disebutnya "Nanny / baby sitter"

Awal warung (Hotdog booth) dibuka, rasa Hotdog saya sangat kacau. Tidak enak dan tidak berselera, sosisnya setengah basah karena kompor yang saya gunakan adalah kompor arang. Hampir penjualan tidak laku. Ataupun kalau ada yang beli karena mereka merasa "kasihan" sama saya, atau sekedar "lucu yah ini anak kecil jualan hotdog". Dan saya kalah dengan abang- abang penjual Hotdog sungguhan (Dengan gerobak orange), dimana rasa Hotdognya enak sekali, dan mereka juga menjual Burger sebgai varian yang lain. Harga yang mereka pasang adalah Rp500. Lebih mahal dari saya, tetapi lebih enak.

Melihat Hotdog Booth saya sepi, saya agak kecewa, dan jujur saja sebagai anak umur 7 tahun, saya menangis ke Ibu saya. Kadang ibu saya tertawa dan bilang bahwa "sudah lah Jim, kamu kan masih kecil, nanti kalau sudah besar kamu buat Hotdog yang lebih enak", atau ayah saya yang suka bilang "Kamu masih TK mendingan main dan belajar sama teman- teman gih". Saya tidak mau tinggal diam.

Pada akhir pekan, saya memaksa Ibu, Ayah dan kakak saya untuk pergi ke Gelael Supermarket (pasar modern yang jaman sekarang semacam Carrefour / Hero ). Ada alasannya saya memaksa. Saya pergi ke Gelael bukan untuk dibelikan barang / mainan / makanan, tetapi untuk belajar membuat Hotdog yang enak. Apabila anda tahu, pada jaman dulu Supermarket Gelael juga menjual Hotdog dengan rasa yang enak sekali, dan menurut saya dan  teman- teman kecil, Hotdog mereka paling enak satu Jakarta. Mereka jual Hotdog nya secara fresh dan kita bisa melihat proses memasaknya. Kemudian saya penasaran dan membuka dialog dengan "chef" hotdog tersebut. Saya hafalkan bahan-bahan yang dia pakai, termasuk cara memanaskan Hotdog tersebut.

Kerap kali, saya catat dalam buku agenda sekolah saya, supaya tidak hilang ataupun missplaced. Setelah beberapa kali "belajar" di Gelael Supermarket, saya lalu mempunyai pikiran untuk meng-upgrade produk saya, yakni Hotdog, menjadi lebih enak dengan bahan- bahan masak yang baik.

Tetapi bagaimana saya dapat modal untuk membeli bahan- bahan Hotdog yang baik tersebut? Sedangkan sebagai anak TK, saya tidak punya banyak tabungan.

Kemudian saya berlari ke ibu saya dan bikin business deal. Saya bilang, "Mama, bagaimana kalau uang jajanku setiap hari, mama potong saja untuk aku beli bahan Hotdog. Tetapi aku pinjam uang di awal dulu. sisanya aku bayar lewat potongan uang jajan tadi". Ibu saya tertawa dan mengiyakan.

Tidak itu saja, kemudia saya pergi ke Ayah saya, dan bilang " Pah, bagaimana seandainya aku cucikan mobil papa, tetapi aku dibelikan kompor minyak tanah untuk masak Hotdog" (kompor yang paling murah saat itu adalah minyak tanah). "Aku cucikan tiap minggu selama 1 bulan". Ayah tertawa dan mengiyakan juga.

Yang terakhir saya pergi ke kakak saya, yang kebetulan duduk di kelas 1 SMP. Kemudian saya bilang "Kak, bagaimana kalau kakak undang teman- teman kakak suruh beli Hotdog aku, dan nanti kakak aku kasih sebagian uang hasil jualan hotdog" (baca: komisi). Kakak ku yang tidak mau rugi bertanya "gue mau dikasih duit berapa?", aku bilang, "Limapuluh perak", Kakak : "Ga mau, gue minta seratus perak". Kata aku: "Ok, Deal !"

Saya tidak meminta modal sepeserpun dari orang tua saya, tetapi saya melakukan deal- deal yang menarik, sehingga mereka mau support saya (At least that's what I think). Kemudian saya mulai belanja di pasar untuk beli kompor dan di Gelael untuk beli bahan Hotdog. uang jajan saya Rp100 perhari, dipotong Rp50 untuk bayar hutang ke ibu saya. Saya belanja sampai Rp7,000 untuk bahan-bahan sendiri. Tetapi menurut perhitungan saya, jika saya bisa jual Hotdog setiap hari, maka saya akan mampu mengembalikan hutang tersebut ke Ibu dengan waktu singkat. Oleh karena itu saya tidak boleh salah sedikitpun, dan harus menganggap bahan- bahan masak tersebut seperti emas, tidak boleh ada yang rusak, tumpah ataupun dicolong oleh teman- teman sekolah saya.

Dengan berbekal bahan- bahan masak yang lebih lezat, teknik memasak yang sudah saya pelajari, serta kompor yang mendukung, saya maju lagi berjualan.

Kakak saya membawa teman- temannya dari kelasnya, dan memborong habis Hotdog saya di hari pertama. Mereka bilang enak, kok bisa enak begini?, empuk yah rotinya, atau sosisnya beli dimana? kok enak. 

Rasa percaya diri saya meningkat, dan saya berjualan lagi sepulang sekolah dari TK saya keesokan harinya.

Saya bilang ke kakak saya untuk mengajak seluruh teman- teman satu angkatan untuk beli hotdog saya, dan diapun akan mendapatkan bonus. Kakak saya memang mata duitan, tetapi dia sayang sama saya dan keluarga, oleh karena itu dia setuju (sorry kak Ellen, kalau membaca blog ini :D).

Niscaya, dia minta Hotdog dibuatkan untuk satu angkatan untuk dibawa ke sekolahnya (Kakak saya dulu bersekolah di SMP Strada Petamburan). Melihat permintaan yang banyak tersebut, ayah dan ibu saya pun ikut turun tangan membantu dengan membuat lebih dari 90 Hotdog. Senang juga melihat orang tua saya dengan semangat membantu saya membuat Hotdog. Ayah dengan kesibukan yang sangat luar biasa di kantor, sepulangnya dia dari kantor langsung menyingsingkan kemeja safarinya dan langsung membuat Hotdog. Tentunya bantuan mereka adalah iklas tanpa gaji / bayaran sebagai staff saya. :D

Seminggu usaha berjalan, rupanya mengundang anak- anak TK dekat rumah saya untuk beli Hotdog dari saya. Selain harga murah dan bersih tetapi rasa tidak kalah dengan Hotdog abang- abang. Dan hal tersebut menjadi selling point saya.

Hampir setiap hari selama 1 bulan, garasi rumah saya ramai oleh anak- anak TK tidak hanya di dekat rumah saya, tetapi dari TK lain diluar kompleks rumah saya ikut membeli Hotdog saya. Penjualan saat itu? sangat fantastis ! kakak saya dengan komisinya bisa membeli kaset- kaset musik impor dari Wham! Rick Astley, Basia, Miami Sound Machine, Gloria Estefan dsb... Saya juga bisa mengembalikan modal yang saya pinjam dari Ibu saya, dan juga Ayah senang melihat saya rajin cuci mobil setiap Sabtu, dan menjadikan hari "Cuci Mobil Bersama" bahkan sampai saya menginjak SMP.

Dari cerita singkat hidup saya, dukungan dari keluarga sangatlah penting dalam pengembangan talenta dan psikis seseorang. Baik dimasa pertumbuhan maupun dewasa. Dalam hal ini, keluarga saya sangat suportif, bukan dari material... tetapi dari semangat dalam mengerjakan sesuatu.

Satu hal yang menjadikan seorang anak berumur 7 tahun dan masih duduk di TK untuk berusaha adalah : Passion !

Passion (lihat di kamus bahasa inggris), membuka seluruh kreatifitas dan imajinasi kita untuk membuat sesuatu usaha berjalan. Dan dengan passion lah kita mendapatkan kesungguhan untuk membuat hasil yang hebat. Tanpa passion, kita tidak akan mendapatkan landasan yang kuat untuk mengerjakan sesuatu yang hebat tadi.

Seorang anak kecil tadi (saya), mempunyai passion yang kuat dalam wirausaha. Dia mempunyai dedikasi yang kuat untuk berbagi produk yang baik untuk dinikmati bersama kawan- kawan dan orang- orang sekitarnya. Hotdog yang dibuat hanyalah medium (alat) untuk melampiaskan passionnya tersebut (disamping dia juga senang makan), tetapi dia tahu bahwa kalau dia berbuat sesuatu dengan sungguh- sungguh, dengan belajar dan belajar dan belajar... dan membuka dirinya tanpa batas untuk hal baru, maka ia akan mendapatkan hasil yang hebat.

 

....bersambung...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




James Suselo
James Suselo

Author



Leave a comment

Comments will be approved before showing up.


Also in Centerflix News Blog

Syarat-Syarat Pengajuan PKP di Jakarta Pusat
Syarat-Syarat Pengajuan PKP di Jakarta Pusat

by Iman Firdaus October 15, 2018

PKP (Pengusaha Kena Pajak) adalah perorangan atau badan usaha yang melakukan serah terima barang atau jasa kena pajak yang di atur berdasarkan undang-undang perpajakan pertambahan nilai atau yang dikenal dengan nama (UU PPN) tahun 1984.
Perorangan atau badan usaha yang diwajibkan untuk melakukan pkp apabila dalam bidang usahanya mempunyai pemasukan (omset) diakumulasi selama 1 tahun mencapai angka 4 miliar rupiah. nah perorangan atau badan usaha ini harus melakukan penyerahan barang kena pajak sesuai dengan undang-undang yang di atur ke pabean daerah masing-masing.

Read More

Sewa Ruang Kantor Ukuran Kecil
Sewa Ruang Kantor Ukuran Kecil

by Andriani Setiawan February 15, 2018

Memiliki sebuah kantor yang menjadi tempat operasional perusahan merupakan sebuah impian atau idaman bagi banyak startup dalam mengembangkan atau dalam melaksanakan operasional perusahaannya itu sendiri. Bagi seorang pengusaha yang baru merintis kariernya di berbagai jenis bidang yang sedang di geluti nya sudah pasti akan melewati banyak sekali hambatan-hambatan dan juga persoalan yang apabila kita tidak pintar dan juga tidak kuat dalam menjalankan sebuah perusahaan. Sudah pasti , usaha yang sedang kita rintis akan hilang alias bangkrut karena tidak dapat bersaing dengan berbagai kompetitor lainnya.

Read More

Sewa Ruang Rapat di Jakarta
Sewa Ruang Rapat di Jakarta

by Iman Firdaus February 13, 2018

Ruang rapat atau lebih sering di sebut ruang pertemuan merupakan salah satu tempat yang sangat penting yang harus di miliki sebuah perusahaan terlebih perusahan yang memiliki ruang kantor sendiri. Ruang pertemuan atau ruang rapat itu sendiri sepertinya, biasanya di gunakan untuk berbagai kepentingan seperti digunakan untuk rapat, acara khusus perusahaan, seminar atau beberapa kepentingan yang menyangkut perusahaan. besarnya ruang rapat yang di sediakan oleh sebuah perusahaan biasanya bervariasi sesuai dengan besar kecilnya kantor sebuah perusahaan. Namun, tidak sedikit juga beberapa perusahaan yang sudah memiliki ruang rapat, namun memilih untuk sewa ruang rapat jakarta.

Read More